Apartemen Kereta

Apartemen Kereta--

 

(Turis domestik dan dari berbagai negara datang ke Chongqing salah satunya untuk mlelihat kereta menembus gedung apartemen. -Foto: Retna Christa-Harian Disway)

 

Saya ikut saja. Begitu bus kami mendekati lokasi itu barulah saya terpana: begitu banyak manusia yang berdesakan di pinggir jalan. Kian tahun kian banyak. Pemda pun membuat lapangan di pinggir jalan lebih luas. Lebarnya menjadi sekitar 15 meter. Panjangnya 150 meter. Penuh manusia. Padat. Mereka berdiri sambil mendongak. Mereka menunggu kereta datang. Lalu menyaksikan kereta itu masuk ke dalam gedung apartemen. Mereka bersorak. Bertepuk tangan.

 

''Kereta masuk apartemen'' itu sebenarnya bukan disengaja sejak awal. Itu lebih pada bentuk penyelesaian dua kepentingan yang berebut. Pengusaha real estate punya rencana membangun apartemen di pinggir jalan itu. Lokasinya strategis. Jalan raya itu di pinggir sungai Jialing. Sungai ini menyatu dengan bengawan Chang Jiang di pusat kota Chongqing. Penghuni apartemen itu bisa punya river view. Sungainya akan tampak di bawah sana. Lokasi apartemen itu memang di lereng gunung.

 

Sebaliknya perusahaan monorel di Chongqing merencanakan membangun stasiun monorel di situ. Mereka saling mengadu ke Pemda. Saling klaim. Akhirnya Pemda memutuskan jalan tengah. Apartemen dan stasiun bisa disatukan.

 

Pihak apartemen keberatan. Apartemennya tidak akan laku. Akan bising. Suara kereta akan sangat mengganggu.

 

Tidak. Monorel ini tidak berisik. Ini bukan KRL. Ini monorel. Rodanya bukan besi. Relnya juga bukan besi. Rodanya karet. Seperti ban mobil, dari jenis khusus untuk monorel.

 

Jadilah.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan