Ampas Teh

--
--
Di setiap musim libur caranya selalu menambah satu rangkaian seperti itu. Kapasitas langsung naik 100 persen. Tidak perlu menambah jadwal --karena jadwalnya sendiri sudah padat.
Misalnya kereta cepat Beijing-Tianjin. Jaraknya mirip Jakarta-Bandung: 30 menit. Pada jam sibuk tiap lima menit ada kereta cepat yang berangkat. Baru pada jam longgar dijarangkan. Itu pun menjadi tiap delapan menit.
Tiba di Huhehaode saya tolah-toleh. Saya sudah tidak kenal lagi kota ini. Bukan hanya berubah tapi sudah berganti. Sudah sama sekali bukan Huhehaode yang pernah saya kenal. Serbabaru. Serbamodern. Hutan gedung tinggi. Jalan lebar-lebar.
Tentu saya bukan turis. Karena itu tidak pergi ke padang pasirnya yang bergunung. Tidak ingin naik kuda di sana. Saya pilih lebih banyak bertemu orang.
Juga berkunjung ke rumah penduduk biasa. Kelas rakyat kampung biasa. Rumahnya di lantai 32 apartemen rakyat: dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi, ruang keluarga (ruang makan dan ruang duduk sofa panjang). Ngobrol dengan mereka soal kehidupan sehari-hari.
Diajak pula makan siang di rumah itu. Dia sendiri yang masak: toge rebus rasa cuka, ayam campur paprika, udang kecil masak kecap, mie kuah, dan satu lagi tidak tahu namanya tapi enak rasanya: teh telur.