Reformasi Solo

--
Oleh: Dahlan Iskan
Minggu 31-08-2025
(Kerumunan massa memadati sekitar rumah Ahmad Sahroni, Sabtu 30 Agustus 2025.--X)
Acara saya di Solo dibatalkan. Pesanan kamar hotel saya pun di-cancel. Tapi saya tetap ke Solo, kemarin. Lantaran awalnya harus hadir di acara itu saya pun bikin janji lain: bertemu orang Jakarta di Solo. Ia sudah telanjur terbang ke Solo. Meski acara utama batal saya tidak bisa membatalkan janji dengannya.
Maka seusai acara pemberangkatan 250 calon mahasiswa penerima beasiswa ke Tiongkok, saya meninggalkan Surabaya. Sepanjang perjalanan ke Solo saya dengarkan radio: apakah demo besar sepanjang hari Jumat masih berlanjut ke hari Sabtu.
Kekhawatiran demo membesar memang ada. Karena itu acara di Solo dibatalkan. Ternyata Solo tenang. Begitu tiba di Solo saya diajak makan siang yang sangat telat: sate dan tongseng kambing Pak Dahlan. Diiringi lagu-lagu Koes Ploes masa lalu oleh pengamen tetap di situ.
Ternyata sate kambing ini dekat sekali dengan rumah Presiden Jokowi. Hanya sekitar 100 meter. Di depan sate itu ada pertigaan kecil. Belok kiri ke jalan kecil itulah rumah Pak Jokowi.
"Kita lewat jalan itu," pinta saya.
Mobil pun belok kiri. Tidak ada penjagaan apa pun di jalan sempit itu --pertanda keadaan aman. Pintu pagar kayu rumah Pak Jokowi selalu tertutup. Terlihat lima orang berjalan kaki di depan rumah itu: kelihatannya sengaja ingin tahu rumah Pak Jokowi.
Lantaran acara utama batal kami pun pilih keliling Solo. Rapat dengan orang Jakarta sambil jalan-jalan. Seluruh kota Solo normal. Jalan utama Slamet Riyadi sibuk seperti biasa.
Lalu kami ke arah Manahan. Ke arah bandara. Tiba di depan gedung DPRD kota, terlihat banyak orang di pinggir jalan. Bukan pendemo. Mereka seperti ingin melihat apakah akan ada demo lagi di DPRD itu --seperti sehari sebelumnya.
Di gerbang DPRD terbaca coretan besar. Rasanya baru dicoretkan oleh pendemo hari Jumat. Bunyinya: DPR Butet! --kata ”Butet” saya pakai untuk mengganti bunyi aslinya yang tidak pantas saya tulis di sini.
Kami terus mengobrolkan dengan si Jakarta. Mobil terus ke arah utara. Tidak jauh dari gedung DPRD itu --sama-sama di kiri jalan-- adalah tanah seluas 12.000 m2 milik Pak Jokowi pemberian negara sebagai Presiden Indonesia dua periode.
Tanah itu dipagari rapat di arah depannya. Ada pos proyek di pintu masuknya. Proyeknya belum kelihatan dibangun tapi seperti sudah akan dimulai. Di situlah rencannya kediaman baru Pak Jokowi nanti.