Memihak Rubil

Selasa 27 May 2025 - 20:25 WIB
Reporter : Redaksi
Editor : Redaksi

Balik dari kamar kecil, petugas pit stop di depan saya seperti lesu. Saya menatap layar. Nama Sato ternyata tergusur dari 10 besar. Ia tergeser jauh ke bawah. Saya berharap beberapa lap berikutnya Sato akan di depan lagi.

 

Tidak. Tidak pernah bisa naik lagi.

 

Saya tinggalkan tempat duduk. Saya ajak Maya pergi ke museum balap mobil. Lokasinya di dalam stadion juga.

 

Sambil berjalan ke museum saya tetap bisa nonton. Saya amati perkembangan Sato di layar. Banyak layar besar di sepanjang jalan. Sato tetap tidak terbilang lagi di layar.

 

Menonton balap mobil –seperti Indy 500– yang menarik adalah pembukaan dan penutupannya. Balapannya sendiri sulit dinikmati. Saat melintas di depan tribun saya, misalnya, kecepatan mobilnya 385 km/jam. Jauh lebih cepat dari kereta Whoosh. Juga lebih cepat Dari mobil Formula 1.

 

Di Formula 1 kita masih bisa menandai mana mobil yang kita dukung. Terlihat dari warna mobil. Atau warna helm pembalapnya.

 

Di Indy 500 saya hanya bisa melihat bayangan kabur sebuah mobil yang melesat cepat. Warna mobil sudah tidak begitu jelas. Apalagi warna helm pembalapnya.

 

Maka yang kami tonton adalah suara deru mobilnya. Untuk posisi pembalap harus lihat layar lebar. Sama-sama menonton di layar kenapa tidak menonton di rumah saja.

 

Kategori :

Terkait

Selasa 27 May 2025 - 20:25 WIB

Memihak Rubil